{"id":7319,"date":"2021-04-09T14:00:00","date_gmt":"2021-04-09T07:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/?p=7319"},"modified":"2021-11-23T13:53:07","modified_gmt":"2021-11-23T06:53:07","slug":"perbedaan-vaksin-sinovac-dan-astrazeneca-yang-dipakai-indonesia-mana-yang-paling-efektif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/perbedaan-vaksin-sinovac-dan-astrazeneca-yang-dipakai-indonesia-mana-yang-paling-efektif\/","title":{"rendered":"Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang Dipakai Indonesia. Mana yang Paling Efektif?"},"content":{"rendered":"\n<p><a href=\"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Perbedaan-Vaksin-Sinovac-dan-AstraZeneca.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7320\" src=\"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Perbedaan-Vaksin-Sinovac-dan-AstraZeneca.jpg\" alt=\"Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca\" width=\"1920\" height=\"1172\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Perbedaan-Vaksin-Sinovac-dan-AstraZeneca.jpg 720w, https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Perbedaan-Vaksin-Sinovac-dan-AstraZeneca-300x183.jpg 300w, https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Perbedaan-Vaksin-Sinovac-dan-AstraZeneca-1024x625.jpg 1024w, https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Perbedaan-Vaksin-Sinovac-dan-AstraZeneca-768x469.jpg 768w, https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/Perbedaan-Vaksin-Sinovac-dan-AstraZeneca-1536x938.jpg 1536w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia mulai dilaksanakan sejak Januari 2021. Saat ini, sebanyak 8,838,081 orang sudah divaksinasi dengan dua jenis vaksin, yaitu vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Mana vaksin yang paling efektif?<\/p>\n<p>Banyak sekali kabar simpang siur yang membahas perbedaan dan persamaan antara kedua vaksin ini.<\/p>\n<p>Beberapa perbedaan yang diulas dari keduanya di antaranya terkait teknologi vaksin, dosis yang diberikan, efektivitas vaksin, dan efek samping yang mungkin dirasakan.<\/p>\n<p>Sayangnya tak semua kabar tersebut benar dan berdasarkan fakta, sehingga banyak muncul informasi yang menyesatkan.<\/p>\n<p>Agar Anda tak mendapatkan misinformasi, simak fakta-fakta terkait perbedaan antara vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang penting untuk diketahui berikut ini.<\/p>\n<h2><strong>Teknologi Vaksin Sinovac dan AstraZeneca<\/strong><\/h2>\n<p>Terdapat perbedaan teknologi pembuatan vaksin Sinovac dan AstraZeneca.<\/p>\n<p>Vaksin Sinovac yang berasal dari Tiongkok menggunakan teknologi dengan metode pelemahan virus atau <em>inactivated<\/em> virus.<\/p>\n<p>Teknologi ini umum digunakan dalam pembuatan vaksin, seperti pada pembuatan vaksin flu dan polio.<\/p>\n<p>Tujuan metode ini yaitu memicu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus Covid-19.<\/p>\n<p>Sementara itu, vaksin AstraZeneca yang didatangkan dari Inggris menggunakan metode viral vektor adenovirus.<\/p>\n<p>Metode ini mengambil vektor virus yang tidak berbahaya dan memasukkan materi genetik virus, yakni protein spike yang terdapat pada permukaan virus corona SARS-CoV-2.<\/p>\n<p>Teknologi pembuatan vaksin menggunakan viral vektor sudah lazim digunakan, misalnya saat pembuatan vaksin malaria dan ebola.<\/p>\n<h2><strong>Dosis dan Efektivitas Vaksin<\/strong><\/h2>\n<p>Vaksin biasanya diberikan sebanyak dua kali dosis dengan interval tertentu agar dapat memberikan perlindungan yang mumpuni.<\/p>\n<p>Vaksin Sinovac diberikan sebanyak dua kali dalam interval 14-28 hari dengan dosis 0.5 ml untuk setiap penyuntikan.<\/p>\n<p>Pada uji klinis efikasi fase ketiga di bulan Januari 2021, efikasi vaksin Sinovac adalah 65,3%.<\/p>\n<p>Namun, efikasi vaksin dapat memperoleh hasil yang berbeda-beda tergantung karakteristik subjek pengujian.<\/p>\n<p>Sementara vaksin AstraZeneca diberikan sebanyak 2 kali dengan dosis 0,5 ml, namun dalam interval yang lebih panjang, yakni empat sampai dua belas minggu.<\/p>\n<p>Efikasi vaksin AstraZeneca berdasarkan makalah yang terbit pada bulan Januari 2021 sebesar 64,1 % setelah satu kali penyuntikan dengan dosis standar.<\/p>\n<p>Meskipun begitu, efikasi dapat meningkat menjadi 70,4 % setelah diberikan dua kali dosis.<\/p>\n<h2><strong>Efek Samping Pemberian Vaksin<\/strong><\/h2>\n<p>Pemberian vaksinasi dapat mengakibatkan reaksi dan efek samping yang berbeda-beda pada setiap orang.<\/p>\n<p>Efek samping yang mungkin Anda rasakan meliputi gejala ringan sampai sedang tetapi tidak parah atau mengncam jiwa.<\/p>\n<p>Vaksin Sinovac dapat mengakibatkan beberapa efek samping setelah penyuntikan, antara lain rasa nyeri di area penyuntikan, gatal-gatal, dan mengantuk.<\/p>\n<p>Vaksin AstraZeneca juga dapat menyebabkan beberapa efek samping dengan gejala ringan sampai sedang.<\/p>\n<p>Efek samping yang paling banyak dirasakan yaitu nyeri, gatal-gatal dan memar pada sekitar area suntik, demam, menggigil, mual, pegal-pegal, dan sakit kepala.<\/p>\n<p>Anda tak perlu khawatir karena efek samping dengan gejala ringan sampai sedang biasanya akan hilang sendiri dalam waktu beberapa hari setelah pemberian vaksin.<\/p>\n<p>Sementara itu, pada beberapa kasus efek samping dapat pulih setelah satu minggu.<\/p>\n<p>Jika Anda merasakan gejala yang cukup parah dan terjadi terus menerus, sebaiknya datangi rumah sakit terdekat untuk memperoleh penanganan medis.<\/p>\n<h2><strong>Golongan Penerima Vaksin<\/strong><\/h2>\n<p>Vaksin Sinovac dapat diberikan kepada orang dewasa berusia 18-59 tahun. Namun, sejak Februari 2021, vaksin Sinovac sudah diizinkan untuk diberikan kepada lansia di atas 60 tahun.<\/p>\n<p>Di sisi lain, vaksin AstraZeneca pada awalnya hanya boleh diberikan pada orang dewasa dengan usia di bawah 65 tahun.<\/p>\n<p>Namun, setelah uji coba vaksin di Inggris kepada lansia dengan usia di atas 65 tahun, diperoleh hasil bahwa lansia juga mampu merespon vaksin dengan kekebalan tubuh.<\/p>\n<p>Kedua jenis vaksin ini dapat diberikan kepada lansia, asalkan melakukan pengecekan tekanan darah sebelum pemberian vaksin dan menghindari kemungkinan adanya komorbid.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Demikianlah beberapa perbedaan antara vaksin Sinovac dan AstraZeneca.<\/p>\n<p>Kedua jenis vaksin sudah melalui proses uji klinis dan sudah terbukti mampu memberikan perlindungan dari virus corona SARS-CoV-2.<\/p>\n<p>Jadi, sudah semakin yakin untuk turut serta dalam vaksinasi, kan?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia mulai dilaksanakan sejak Januari 2021. Saat ini, sebanyak 8,838,081 orang sudah divaksinasi dengan dua jenis vaksin, yaitu vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Mana vaksin yang paling &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-7319","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kesehatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7319"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7319"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7319\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekpremi.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}