Banyak Anak Banyak Rezeki. Benarkah?

babies cekpremi

Jika dulu budaya tradisional Indonesia selalu berpegang kepada pepatah “banyak anak banyak rezeki”, maka jika kita pertanyakan pepatah itu sekarang, tentu akan berubah hampir 180 derajat. Apalagi jika kita tanyakan pertanyaan serupa di lingkungan masyarakat perkotaan, jawabannya pasti akan menjadi homogen. Mengapa? Simak 3 faktor yang bisa membuat perubahan pola pikir masyarakat Indonesia.

  1. Karir

confused couple cekpremi

Pada awalnya pernikahan diumur yang masih muda bisa saja membuat beberapa pasangan menunda untuk memiliki anak, pasalnya banyak yang bilang “masih mau pacaran dulu”. Hal ini bisa saja terjadi dikarenakan tidak ingin menghambat perkembangan karir. Tapi ada juga yang langsung memiliki anak, tetapi di usia muda ini banyak pasangan merasa waktu mudanya terbelenggu dengan adanya anak, sehingga tidak bahagia dan menjalani kehidupan berumah tangga dengan kocar-kacir atau seadanya. Sehingga dengan adanya anak secara tidak sadar pasangan yang menikah muda pun mengeluh karena kurang istirahat atau semacamnya. Berawal dari hal seperti inilah pasangan yang lain kemudian belajar dan membentuk pola pikir bahwa memiliki anak banyak pasti akan merepotkan.

 

 

 

 

  1. Keadaan Ekonomi

money lips cekpremi

Tidak sedikit orang yang membatasi untuk memiliki keluarga minimalis alias 1 ayah, 1 ibu, 1 anak atau 2 anak. Hal ini disebabkan oleh biaya sekolah yang kian meningkat, biaya sehari-hari yang juga melonjak, belum lagi biaya hiburan bagi sang anak setiap weekend. Jika dihitung-hitung mungkin akan merobek kantong Anda. Semua hal diatas tidak lepas dari keadaan ekonomi Indonesia yang mengalami pasang surut, sehingga para orang tua akan berpikir ribuan kali untuk memiliki anak banyak. Karena pada faktanya setiap orang tua pasti memiliki keinginan untuk memberikan hidup yang paling layak untuk anaknya.

 

 

 

 

 

  1. Tanggung Jawab Moral

cekpremi banyak anak banyak rezeki

Jika semua orang kalut dengan uang yang harus mereka sediakan untuk anak-anak mereka, banyak orang tua yang melupakan nilai-nilai personal dari anak-anak mereka. Semua anak memiliki gadget dan sibuk dengan gadget mereka masing-masing begitu pula dengan para orang tua, tapi apakah Anda sebagai orang tua sering menanyakan belajar apa mereka disekolah? Siapa saja teman mereka di sekolah ataupun di tempat les? Pelajaran apa yang paling susah untuk mereka? Bagaimana sikap guru mereka disekolah? Atau sekedar menanyakan mau makan apa malam nanti? Yang perlu diingat adalah apakah Anda telah memiliki perhatian khusus kepada anak Anda. Mengkompromikan segala sesuatu mengenai perkembangan rumah tangga juga perlu, supaya anak tidak merasa selalu menjadi anak kecil, tetapi menjadi pribadi yang dewasa dan bisa memiliki pola pandang yang sama dengan orang tua. Kebanyakan orang tua lupa, bahwa anak perlu dilibatkan untuk berdiskusi bersama untuk sekedar memutuskan mau jadi apa jika mereka sudah besar, karena masa depan juga perlu dipersiapkan. Karakter anak yang paling besar tetap akan dibentuk dari hangatnya rumah, keluarga adalah lingkungan primer yang berpotensi besar untuk menentukan sikap anak untuk menapaki kehidupannya kedepan.

 

Jadi, kesimpulannya adalah bukan berarti tidak boleh memiliki banyak anak. Sebutan banyak anak banyak rezeki boleh saja diamini, tetapi masing-masing orang tua harus sadar bahwa anak juga harus dipertanggung jawabkan, bukan hanya dari segi kelayakan hidup, tetapi juga dari segi moral dan pembentukan karakter yang berasal dari didikan keluarga.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

November 3, 2014

Posted In: Lifestyle, Must See

Tags: , , , ,

Leave a Comment

Kontak Cekpremi

Icon 21 Kebon Jeruk
BLok B no. 17 Jl. Meruya Ilir raya Srengseng - Kembangan
Jakarta Barat, ID 11620
Telp : 021-50517000


2014-2016 © PT. Reventon Mitra Pratama
DMCA.com Protection Status
Ikuti Kami