Cerita Menteri Susi, Nelayan, dan Asuransi Sebagai Bentuk Kepedulian

Asuransi
Image Source bisniskeuangan.kompas.com

Pagi itu Sabtu 1 November 2014 matahari bersinar, cuaca tampak cerah di perkampungan nelayan Pangandaran Jawa Barat. Para petugas berjaga, para nelayan bersiap merapihkan tempat pelelangan ikan. Tak biasanya memang, Pelelangan ikan bersolek sepertinya akan ada tamu besar yang berkunjung ke tempat mereka.

 

Siapakah tamu agung yang akan mengunjungi kumuhnya tempat pelelangan ikan tersebut? Tepat di pinggir sepanjang jalan masuk menuju Pangandaran, terpampang spanduk penyambutan dengan gambar diri serta ucapan bertuliskan “ Selamat atas terpilihnya Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan Dan Perikanan”.

 

Ahh rupanya yang akan datang adalah Susi Pudjiastuti, seorang perempuan nyentrik yang menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.Pantas saja para nelayan terlihat antusias, bagi mereka Susi bukanlah seorang Menteri biasa. Susi adalah Menteri yang namanya besar berkat tetesan keringat yang ia kucurkan di Tempat Pelelangan Ikan Pangandaran. Yap tepat setelah Susi putus sekolah, Ia menjual perhiasan demi menjadi pengepul ikan untuk terus menafkahi hidupnya, dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita yang hanya akan berkecimpung dalam urusan dapur rumah tangga saja.

 

Rasanya tak cukup jika cerita tentang perjuangannya dituangkan dalam tulisan kali ini, tapi yang jelas kisah hidup Susi akan menjadi sebuah cerita pengantar tidur anak yang lebih baik dari dongeng Cinderella.

 

Mungkin beberapa nelayan di Pangandaran masih ada yang ingat bagaimana kisah hidup Susi saat masih menjadi pengepul ikan di Pangandaran. Pastinya binar rasa bangga terpancar dari mata mereka sekarang. Susi yang dulu keluar masuk perkampungan nelayan dengan membawa keranjang berisi ikan, kini telah berganti menjadi Susi yang keluar masuk Istana Negara dengan membawa setumpuk harapan para nelayan Indonesia di pundaknya. Hanya beberapa yang mungkin tidak berubah darinya yaitu gaya nyentrik dan sifat kedemawanannya.

 

Semua sudah siap, pelelangan ikan yang kumuh sudah bersih, tamu agung sudah dipersilahkan datang. Tak lama berselang deru suara baling-baling helikopter berkumandang di atas langit pangandaran, dan kemudian mendarat di dekat lokasi pemakaman orang tua Susi. Terlihat seorang wanita dengan mengenakan pakaian bermotif garis-garis turun dari helikopter, rambutnya yang sedikit di cat keunguan dan diikat kebelakang.

 

Itu dia, dia adalah tamu yang sudah sedari tadi ditunggu oleh para nelayan di Pangandaran. Susi melangkah keluar dari helikopter yang mengantarnya, wajahnya tampak bersahaja, tak sesangar ketika Ia memerintahkan Polisi air untuk menenggelamkan kapal nelayan asing illegal yang mencuri ikan di perairan Indonesia.

 

Susi berkunjung ke Pangandaran dalam rangka “blusukkan”nya ke kampung-kampung nelayan. Dia melihat, dan merasakan beban para nelayan yang sering kali di pandang sebelah mata. Indonesia adalah Negara paling congak yang tidak terlalu peduli akan kekayaan dimiliki, terlalu banyak menelantarkan orang yang menyandarkan hidupnya dalam kemewahan yang ada di Indonesia.

 

Tapi tidak dengan Susi, hari itu mengulas melankoli masa lalunya, bau amis ikan di tempat pelelangan seperti membawa memori masa remajanya yang tak bisa ia habiskan dengan kesenangan layaknya teman-teman yang lain. Nuraninya terusik ketika tahu tingkat kesejahteraan nelayan yang masih rendah.

 

Keluhan demi keluhan keluar dari bibir para nelayan, tapi tidak lantas membuat Susi jengah untuk mendengarnya. Justru dengan antusias Ia mendengarkan satu per satu keluhan tersebut.Keramahannya tergambar tatkala Ia menyapa dan mengingat nama rekan-rekannya di Pangandaran.

 

Secara spontan Susi yang dikerumuni para nelayan tersebut mengucap sesuatu “ Saya akan memberikan asuransi untuk para nelayan yang sudah tidak bisa melaut, yang tua-tua, dari gaji menteri saya sekarang,” katanya. Sungguh ucapan dari menteri Susi tadi seolah meluluhkan sedikit beban para nelayan yang menjerat para nelayan, terutama nelayan yang sudah uzur dan tidak kuat lagi menahan tingginya terjangan ombak.

 

Gajinya sebagai Menteri sebesar Rp 15 juta akan ia donasikan kepada para nelayan dengan bentuk asuransi. Keluhan demi keluhan yang diucapkan para nelayan rupanya memantik rasa empati, Susi terenyuh dan sadar bahwa kehidupan para nelayan masih jauh dari kata layak. Besaran gaji yang diterima Susi tidak sebanding dengan keuntungan yang dihasilkan oleh kedua perusahaan miliknya. Bahkan gajinya tersebut tidak sampai satu persennya, Susi berkata sambil tersenyum sejuk, sesejuk hati para nelayan melihat dan mendengar ucapan dari Menteri Susi.

 

Blusukkan Susi selesai, pada Sore harinya. Helikopter yang terparkir di lokasi pemakaman sudah bergegas meninggalkan Pangandaran. Susi melanjutkan tugasnya, mengunjungi perkampungan nelayan lain, mendengar keluh kesah,dan menyeka air mata para nelayan yang terhimpit oleh beban perekonomian.

 

Satu hal yang bisa diambil dari kunjungan Menteri Susi Pudjiastuti ke Pangandaran adalah, ada banyak cara mengungkapkan rasa peduli terhadap orang yang kita cintai. Salah satunya adalah melindungi mereka dan masa depannya dengan menggunakan asuransi.

 

Asuransi
Cek asuransi terbaik dengan harga premi termurah (klik gambar)

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

January 26, 2015

Posted In: Inspirational

Tags: , , , ,

Leave a Comment

Kontak Cekpremi

Icon 21 Kebon Jeruk
BLok B no. 17 Jl. Meruya Ilir raya Srengseng - Kembangan
Jakarta Barat, ID 11620
Telp : 021-50517000


2014-2016 © PT. Reventon Mitra Pratama
DMCA.com Protection Status
Ikuti Kami