Yakin Bisa Hidup Tanpa Internet ?

 

Saat ini ketergantungan manusia kepada internet semakin tinggi dan menempati posisi prioritas ketiga hal pokok yang dikonsumsi manusia setiap hari selain listrik dan air. Kebutuhan sambungan internet dan konten informasi yang mengalir di dalamnya menjadi primadona dari tahun ke tahun. Bayangkan, setiap lapisan masyarakat baik itu masyarakat awam yang menggunakan untuk interaksi sosial ataupun untuk para pelakon bisnis sudah sangat ketergantungan dengan Internet. Tapi bayangkan apa yang akan terjadi jika internet di negeri ini mati total ? Pastinya banyak sekali pihak yang merugi !!

 

Nah, dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan, internet di Indonesia terancam bisa mati total. Pasalnya, seluruh penyelenggara jasa internet yang ada di negeri ini yang jumlahnya lebih dari 200 ISP, tak mau bernasib sama layaknya Indar Atmanto, mantan Dirut Indosat Mega Media (IM2) yang berakhir masuk penjara. Seperti diketahui, Indar dinyatakan bersalah atas kasus tuduhan korupsi pengadaan jaringan 2,1 GHz/3G PT Indosat dan divonis 8 tahun penjara. Ia kemudian dipaksa masuk ke LP Sukamiskin setelah upaya kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA) dan kemudian dieksekusi Kejaksaan Agung (Kejagung). Selain vonis penjara, Indar juga harus membayar denda Rp 300 juta subsider kurungan 6 bulan. Dalam putusan kasasi, MA juga menghukum IM2 untuk membayar uang pengganti Rp 1.358.343.346.670. Kejagung selaku eksekutor juga memerintahkan IM2 untuk membayar uang pengganti tersebut. Bagaimana kita membayangkan hidup tanpa internet?

 

Sulit dibayangkan kalau koneksinya beneran mati total. Industri bakal kalang-kabut? Yang pasti, Indonesia akan kembali ke masa 20 tahun silam seperti saat internet belum hadir di negeri ini. Demikian dikhawatirkan pegiat internet Onno W. Purbo. Ia takut, jika seluruh penyelenggara jasa internet (ISP) di Indonesia yang jumlahnya mencapai lebih dari 300-400 perusahaan, beramai-ramai menutup akses layanannya. Kekhawatiran para penyelenggara ISP ini sangat beralasan. Mereka menilai, apa yang telah dilakukan Indar sudah sesuai dengan peraturan dan telah dianggap benar oleh regulator telekomunikasi seperti Kementerian Kominfo dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

 

Para penyelenggara ISP juga akan menigirimkan surat untuk meminta fatwa ke MA, apakah izin yang dimiliki ISP ini bisa berdampak ke semua. Karena hampir sebagian besar ISP menggunakan skema bisnis yang sama seperti IM2 dan Indosat,” lanjutnya dalam pertemuan itu. Kalau misalnya nanti jawaban MA fatwanya berlaku sama, maka 71 juta pengguna internet di Indonesia akan terancam tidak dapat akses internet karena akan mati total. Target pemerintah untuk 110 juta pengguna internet di 2015 juga mustahil tercapai dan kerugiannya pun luar biasa dashyatnya, dengan transaksi internet di Indonesia yang menghasilkan uang Rp 3 miliar setiap dua menit. Itu artinya, ada Rp 90 miliar tiap jam yang akan hangus. Sudah terbayangkan berapa kerugiannya?

 

Selain para penyelenggara jasa internet yang merugi, ” Kiamat Internet ” sudah tentu bedampak bagi seluruh lapisan masyarakat. Pihak yang akan mengalami kerugian sudah barang tentu industri yang berkaitan dengan transaksi keuangan dan internet. Seperti perbankan, bursa saham, online trading, dan lainnya. Termasuk juga situs berita, social media, instant messaging, kampus, dan masih banyak lagi yang harus merasakan imbas hidup tanpa internet. Beberapa pihak yang sangat terpengaruh oleh ” Kiamat Internet ” antara lain :

 

1. Para Pebisnis

 

Apa Anda seorang pengusaha di bidang perbankan, bursa saham, online trading, dan lainnya? Bayangkan jika Anda seorang pebisnis atau pengusaha yang selalu mengandalkan internet ! Pasti sangat banyak kerugian yang akan Anda dapat dan pasti Anda akan pusing tujuh keliling tentunya jika ” Kiamat Intenet ” benar-benar terjadi.

2. Para Pelajar

 

Sudah menjadi hal yang wajar jika zaman sekarang para pelajar baik yang masih di sekolah dasar ataupun yang sudah sampai di perguruan tinggi sangat membutuhkan koneksi internet dalam membantu setiap pelajaran. Bayangkan jika Anda sebagai pelajar tapi tidak bisa mencari jawaban dari pelajaran yang Anda dapatkan di Internet dan tidak ada jawabannya juga dibuku. Apa Anda harus bertanya ke buku diary Anda?

 

3. Para Pecinta Social Media

Zaman sekarang setiap orang pasti membutuhkan Social Media, baik itu hanya untuk sekedar posting gambar ataupun sampai berinteraksi keteman lainnya karena kebanyakan orang menganggap Social Media adalah sarana yang ringkas untuk berinteraksi saat ini. Jika ” Kiamat Internet ” benar-benar terjadi, bisa dipastikan para pecinta Social Media hanya akan duduk termenung tanpa menggunakan fasilitas intenet atau kembali menggunakan SMS sebagai sarana interaksi.

 

4. Pemerintahan

 

 

Kebutuhan untuk internet pada saat ini tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat saja, tapi pemerintah pun memanfaatkan pula akses internet untuk memantau atau memproteksi sistem keamanan negara kita dan juga untuk memantau berita dari negara lain. Tanpa adanya akses Internet, sistem keamanan pemerintah pun akan mengendur.  Nah sudah bisa dipastikan apa yang akan terjadi jika negeri ini tanpa internet ?

 

Internet sudah seperti lauk bagi masyarakat Indonesia saat ini. Untuk itu diperlukan kearifan dalam menyikapi pertumbuhan tersebut dan memelihara keberadaannya. Kapan ‘kiamat internet’ bakal terjadi? Tidak yang tahu, semoga saja Indonesia dan dunia tidak mengalami kejadian ‘kiamat internet’ ini, dan juga pihak penyelenggara internet ( ISP) dan MA dapat menemukan jawaban yang pas agar tidak merugikan berbagai pihak.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

September 26, 2014

Posted In: Features

Tags: , , , ,

Leave a Comment

Kontak Cekpremi

Icon 21 Kebon Jeruk
BLok B no. 17 Jl. Meruya Ilir raya Srengseng - Kembangan
Jakarta Barat, ID 11620
Telp : 021-50517000


2014-2016 © PT. Reventon Mitra Pratama
DMCA.com Protection Status
Ikuti Kami