Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang Dipakai Indonesia. Mana yang Paling Efektif?

Apr - 09
2021

Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang Dipakai Indonesia. Mana yang Paling Efektif?

Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia mulai dilaksanakan sejak Januari 2021. Saat ini, sebanyak 8,838,081 orang sudah divaksinasi dengan dua jenis vaksin, yaitu vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Mana vaksin yang paling efektif?

Banyak sekali kabar simpang siur yang membahas perbedaan dan persamaan antara kedua vaksin ini.

Beberapa perbedaan yang diulas dari keduanya di antaranya terkait teknologi vaksin, dosis yang diberikan, efektivitas vaksin, dan efek samping yang mungkin dirasakan.

Sayangnya tak semua kabar tersebut benar dan berdasarkan fakta, sehingga banyak muncul informasi yang menyesatkan.

Agar Anda tak mendapatkan misinformasi, simak fakta-fakta terkait perbedaan antara vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang penting untuk diketahui berikut ini.

Teknologi Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Terdapat perbedaan teknologi pembuatan vaksin Sinovac dan AstraZeneca.

Vaksin Sinovac yang berasal dari Tiongkok menggunakan teknologi dengan metode pelemahan virus atau inactivated virus.

Teknologi ini umum digunakan dalam pembuatan vaksin, seperti pada pembuatan vaksin flu dan polio.

Tujuan metode ini yaitu memicu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus Covid-19.

Sementara itu, vaksin AstraZeneca yang didatangkan dari Inggris menggunakan metode viral vektor adenovirus.

Metode ini mengambil vektor virus yang tidak berbahaya dan memasukkan materi genetik virus, yakni protein spike yang terdapat pada permukaan virus corona SARS-CoV-2.

Teknologi pembuatan vaksin menggunakan viral vektor sudah lazim digunakan, misalnya saat pembuatan vaksin malaria dan ebola.

Dosis dan Efektivitas Vaksin

Vaksin biasanya diberikan sebanyak dua kali dosis dengan interval tertentu agar dapat memberikan perlindungan yang mumpuni.

Vaksin Sinovac diberikan sebanyak dua kali dalam interval 14-28 hari dengan dosis 0.5 ml untuk setiap penyuntikan.

Pada uji klinis efikasi fase ketiga di bulan Januari 2021, efikasi vaksin Sinovac adalah 65,3%.

Namun, efikasi vaksin dapat memperoleh hasil yang berbeda-beda tergantung karakteristik subjek pengujian.

Sementara vaksin AstraZeneca diberikan sebanyak 2 kali dengan dosis 0,5 ml, namun dalam interval yang lebih panjang, yakni empat sampai dua belas minggu.

Efikasi vaksin AstraZeneca berdasarkan makalah yang terbit pada bulan Januari 2021 sebesar 64,1 % setelah satu kali penyuntikan dengan dosis standar.

Meskipun begitu, efikasi dapat meningkat menjadi 70,4 % setelah diberikan dua kali dosis.

Efek Samping Pemberian Vaksin

Pemberian vaksinasi dapat mengakibatkan reaksi dan efek samping yang berbeda-beda pada setiap orang.

Efek samping yang mungkin Anda rasakan meliputi gejala ringan sampai sedang tetapi tidak parah atau mengncam jiwa.

Vaksin Sinovac dapat mengakibatkan beberapa efek samping setelah penyuntikan, antara lain rasa nyeri di area penyuntikan, gatal-gatal, dan mengantuk.

Vaksin AstraZeneca juga dapat menyebabkan beberapa efek samping dengan gejala ringan sampai sedang.

Efek samping yang paling banyak dirasakan yaitu nyeri, gatal-gatal dan memar pada sekitar area suntik, demam, menggigil, mual, pegal-pegal, dan sakit kepala.

Anda tak perlu khawatir karena efek samping dengan gejala ringan sampai sedang biasanya akan hilang sendiri dalam waktu beberapa hari setelah pemberian vaksin.

Sementara itu, pada beberapa kasus efek samping dapat pulih setelah satu minggu.

Jika Anda merasakan gejala yang cukup parah dan terjadi terus menerus, sebaiknya datangi rumah sakit terdekat untuk memperoleh penanganan medis.

Golongan Penerima Vaksin

Vaksin Sinovac dapat diberikan kepada orang dewasa berusia 18-59 tahun. Namun, sejak Februari 2021, vaksin Sinovac sudah diizinkan untuk diberikan kepada lansia di atas 60 tahun.

Di sisi lain, vaksin AstraZeneca pada awalnya hanya boleh diberikan pada orang dewasa dengan usia di bawah 65 tahun.

Namun, setelah uji coba vaksin di Inggris kepada lansia dengan usia di atas 65 tahun, diperoleh hasil bahwa lansia juga mampu merespon vaksin dengan kekebalan tubuh.

Kedua jenis vaksin ini dapat diberikan kepada lansia, asalkan melakukan pengecekan tekanan darah sebelum pemberian vaksin dan menghindari kemungkinan adanya komorbid.

***

Demikianlah beberapa perbedaan antara vaksin Sinovac dan AstraZeneca.

Kedua jenis vaksin sudah melalui proses uji klinis dan sudah terbukti mampu memberikan perlindungan dari virus corona SARS-CoV-2.

Jadi, sudah semakin yakin untuk turut serta dalam vaksinasi, kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *