KPR Syariah VS KPR Konvensional, Apa Bedanya?

Apr - 04
2021
kpr syariah

KPR Syariah VS KPR Konvensional, Apa Bedanya?

Saat sudah memiliki berkeluarga, mungkin salah satu tujuan keuangan yang ingin dicapai adalah memiliki rumah sendiri. Namun, seperti diketahui bahwa harga rumah tidak murah, apalagi di kota-kota besar. Tingginya harga rumah menjadikan kemungkinan untuk membeli secara tunai semakin kecil. Salah satu alternatif pembelian hunian ini adalah dengan memanfaatkan Kredit Pemilikan Rumah atau KPR. Kalau sistem KPR konvensional mungkin sudah banyak yang tau, tapi kalau KPR syariah, apakah sudah banyak yang tau? 

Kredit Pemilikan Rumah syariah disediakan oleh bank syariah atau Unit Usaha Syariah (UUS). Pembayarannya dapat berupa jangka pendek, menengah, atau panjang untuk membiayai pembelian rumah tinggal, baik baru ataupun bekas dengan prinsip/akad murabahah atau dengan akad lainnya. Lalu, apa perbedaannya dengan KPR konvensional?

Daftarkan Gratis !

Dapatkan penawaran MENARIK dan diskon BESAR dari kami

I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )

I will never give away, trade or sell your email address. You can unsubscribe at any time.

Perbedaan KPR Syariah dan Konvensional

kredit rumah

Proses Transaksi

Selain beban bunga dan riba, proses transaksi juga menjadi pembeda utama dari kedua sistem KPR ini. Pada umumnya, KPR konvensional melakukan transaksi berupa uang. Sementara itu, Kredit syariah melakukan transaksi menggunakan barang, dimana barang yang dimaksud adalah rumah itu sendiri dan dilakukan dengan prinsip jual-beli (Murabahah).

Sebagai contoh, jika Anda membeli rumah dengan KPR konvensional, maka Anda akan membayar pinjaman ditambah dengan bunga KPR dan biaya lainnya. Sedangkan, untuk kredit rumah syariah, misalnya Anda membeli rumah seharga 50 juta, maka bank syariah akan membeli rumah yang Anda inginkan, lalu menjualnya keypad Anda dengan cara mengangsur. Pihak bank akan mengambil keuntungan dari penjualan rumah tersebut dengan mengambil margin keuntungan yang telah disepakati sebelumnya, misalnya 100 juta sehingga biaya yang harus dibayar adalah 600 juta selama masa tenor.

DP dan Akad Kredit

Uang muka KPR syariah biasanya lebih ringan, yakni 10-15%, tergantung kebijakan setiap bank. Untuk akadnya sendiri dibuat berdasarkan hukum Islam, yaitu dengan sistem jual-beli atau murabahah. Utuk KPR konvensional biasanya uang muka yang harus dibayarkan minimal 20-25%. Kemudian, akad atau perjanjiannya dilandasi oleh hukum positif yang meliputi harga rumah, bunga pinjaman, cicilan per bulan, sampai jumlah yang dilunasi.

Bunga dan Jangka Waktu

Kredit rumah syariah tidak membebankan bunga kepada pembeli rumah, melainkan akan langsung mengambil keuntungan dari margin penjualan rumah. Jadi, biaya cicilan per bulannya sudah tetap. Untuk sistem KPR konvensional akan terus mengikuti acuan fluktuasi suku bunga dari Bank Indonesia. Sebagai contoh, misalnya dua tahun pertama tingkat bunga KPR konvensional yang ditetapkan oleh BI sebesar 4%, berikutnya suku bunga mengembang menjadi 7%. Dengan demikian, beban bungamu akan berbeda-beda nominalnya.

Tenor Cicilan

Dalam hal ini, KPR konvensional memang lebih menang. Pada umumnya, KPR konvensional bisa memberikan jangka waktu cicilan 5-25 tahun, bahkan ada yang sampai 30 tahun. Untuk kredit rumah syariah menerapkan sistem tenor lebih pendek, 5-15 tahun. 

Denda 

Kedua sistem KPR ini memiliki regulasi masing-masing dalam hal denda atau keterlambatan pembayaran. Kredit rumah syariah tidak mengenakan sanksi kepada nasabah yang telat melakukan pembayaran cicilan rumah baru. Untuk KPR konvensional, apabila nasabah terlambat atau menunggak pembayaran, maka akan dikenakan sanksi berupa denda sesuai dengan kebijakan bank tersebut.

Keunikan KPR Syariah

Selain perbedaan di atas, ada keunikan tersendiri dari KPR ini, dimana memberikan kebebasan kepada nasabah untuk menegosiasikan pilihan rumah dengan bank. Bahkan, beberapa kredit rumah syariah mengizinkan untuk tidak meneruskan pinjaman yang pertama dan berganti rumah yang lebih sesuai dengan kebutuhanmu. 

KPR syariah memiliki akad kepemilikan bertahap yang disebut dengan istilah musyarakah mutanaqisah, dimana baik nasabah maupun bank sama-sama memiliki rumah dan nasabah membayar cicilan yang diberikan. Kemudian, kepemilikan akan berpindah ke tangan nasabah secara bertahap dari pihak bank.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *